Selasa, 27 Desember 2016

Sahabat atau Cinta
by : Eka S

Capter 1

Saat kita menyukai seseorang, hal pertama yang kita suka adalah penampilan luarnya dan kelebihannya. Dan ketika kita mencintai seseorang, maka kita akan mencintai segala kelebihan maupun kekurangannya. Disinalah perjalanan cintaku dimulai..
Namaku sheila juwita, 22 tahun, saat ini aku sedang menempuh pendidikan di fakultas ekonomi semester 5 di salah satu universitas ternama di salah satu kota besar di Indonesia, keseharianku di kampus selalu bersama kedua sahabatku vanessa dan renny, vanessa adalah penerus dari pengusaha besar yang sudah pasti masa depannya sangat jelas. Sedang renny bercita-cita ingin menjadi bintang besar, jadi dia tak henti-hentinya mengikuti berbagai macam audisi pencarian bintang dari modelling, acting, hingga menyanyi, namun rupanya belum ada yang nyangkut. Kalau aku, sementara targetku sebatas bisa lulus kuliah dengan cepat dan bisa bekerja di sebuah perusahaan.
"Sheil, pulang kuliah temenin shoping yuk?" Tanpa say hi terlebih dahulu vanessa tiba-tiba menghampiriku.
"Shoping lg ness? Yang kemarin juga aku yakin belum terpakai semua kan?" Jawabku malas.
"Kali ini bukan buatku sendiri miss, aku mau nyari hadiah buat seseorang." Vanessa dan renny biasa memanggilku miss, ya karena diantara mereka secara teori aku paling jago di setiap MK (mata kuliah).
"Seseorang? Cowok? Maksud kamu buat Steve?" Steve adalah gebetan vanessa asal USA yang sedang menempuh pendidikan juga di kampus yang sama dengan kami.
"Bukan kok.." Mataku yang tadinya sibuk membaca kini beralih ke vanessa dengan tatapan seolah menuduh dia macam-macam.
"Bukan gebetan baru juga, kamu kan tahu tidak ada yang lebih baik dari steve."
"Iya, menurutmu.." Kami pun tertawa bersamaan.
"Hai, hai, hai.. kalian tidak sedang menertawanku kan?" Renny datang dengan tingkah genitnya seperti biasa, dan muka bingungnya membuat kami kembali tertawa.
***
Selesai mata kuliah terakhir aku dan vanessa pun pergi ke pusat perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari kampus, renny tidak bisa ikut entah kenapa, dan kami akhirnya memilih sebuah jam tangan mewah brown yang harganya sepertinya bisa untuk biaya hidupku yang anak kost selama 6 bulan. Tapi tentu saja itu bukan masalah buat vanessa yang tinggal gesek credit cardnya tanpa perlu memikirkan tagihannya.

"Sheil, aku.. aku boleh minta bantuanmu?" Di tengah pembicaraan kami saat singgah buat menikmati coffee latte dekat counter jam yang baru saja kami kunjungi, tiba-tiba vanessa seperti berubah menjadi serius.
"Apaan sih? Serius banget? Palingan juga dibuatin tugas lagi kan?" Cibirku.

Vanessa memang kadang meminta bantuanku untuk mengerjakan tugasnya saat dia tidak sempat mengerjakan karena kesibukannya membantu Papahnya mengurus perusahaannya, begitupun vanessa sering diam-diam membayarkan uang kuliahku, karena tentu saja aku tidak mau menerimanya cuma-cuma, berkali-kali aku bermaksud mengembalikannya saat transferan dari bapak sampai tapi vanessa selalu menolaknya dan dia menyuruhku untuk menabungnya untuk keperluan yang tidak terduga.

"Tidak.. ini bukan soal kuliah.. tapi aku sungguh putus asa, aku tidak punya solusi lain sheil.."
"Jangan bilang masalah perusahaan? Sorry kalau itu aku tidak berani ness.."
"Bukan sheil.. dengerin aku dulu, kasih aku waktu buat ngejelasin.."
"Mmm.. Aku mau dijodohin sheil."
"What..? Lalu bagaimana dengan steve?"
"Itulah sheil, kamu tahu kan aku cinta mati banget ama steve."
"Kalau begitu tolak aja ness!"
"Tidak semudah itu sheil, mamah bilang kalau aku menolak papah akan mencari tahu tentang steve, aku takut terrjadi sesuatu dengan steve, papah kadang nekad kalau masalah masa depanku." Jelas vanessa.
"Lalu.. apa yang bisa aku bantu ness?"
"Malam ini papah sudah mengatur jadwal untuk bertemu dengannya, tapi steve juga berencana mengenalkan aku sama keluarganya yang sedang mengunjunginya ke sini, jadi aku mohon gantiin aku yaa pliss.."
"What..?" Aku tidak yakin apa maksud vanessa.
"Iya, kamu akan menggantikan aku untuk bertemu dengannya.. sebagai vanessa." Kata vanessa.
"Tapi, apa tidak apa-apa ness? Aku takut nantinya kamu malah kena masalah." Tanyaku khawatir.
"Tidak, aku yakin tidak.. aku yakin setelah pertemuan ini pihaknya akan membatalkan perjodohan ini." Jelas vanessa.
"Maksudmu? Kenapa?" Tanyaku bingung.
"Karena.. aku yakin kamu bukan tipenya.. huahaha.." Vanessa menertawakanku seenaknya.
"What..? Tega kamu ness.." tapi memang vanessa tidak salah, dengan bodyku yang pas-pas an dan kulit yang tidak tersentuh perawatan, tentu saja tidak setara dengan orang yang hendak dijodohkan dengannya yang notabene seorang calon eksekutif muda.
"Bukan apa-apa, tapi kamu tahu lah maksudku. Aku yakin orang semacam dia pasti standarnya kelewat tinggi. Dan lagi, kabarnya sih dia sudah punya cewek juga, mau ya.. pliss.. setelah ini, aku janji aku tidak akan ngerepotin kamu lagi deh, terutama masalah tugas kuliah." Rengek vanessa membuatku tidak tega.
"Okey.. tapi malam ini aja kan? Sekali aja kan?" Aku meyakinkan vanessa tidak ada lain kali.
"Iya.. aku jamin, tidak ada yang kedua kali."
"Okey.." Akhirnya aku meng-iyakan permintaan vanessa.
Dengan muka sumringah vanessa menarik tanganku entah mau kemana lagi ini anak.
"Mau kemana lagi kita ness?" Tanyaku sambil terseret-seret olehnya.
Sesampainya di salon langganannya, "Taraaa.." Vanessa ber_Tara ria dengan kedua tangannya dibuka lebar-lebar.
"Aku capek ahh, ogah nungguin kamu nyalon." Kataku jutek.
"Iiiih, tenang aja, kali ini aku yang nungguin kamu." Kata vanessa.
"Jhon, tolong make over si cantik ini biar tambah elegan." Vanessa mendorongku dan memaksaku duduk di kursi depan cermin salon langganan para wanita sosialita ini.
"OK ness, serahkan pada jhon!" Kata jhony yang biasanya handle perawatan vanessa.
"Tunggu disini ya manis." Vanessa berbisik kepadaku.
"Tapi ness.." Vanessa pun berlalu entah kemana meninggalkanku dalam ketidaktahuanku mau diapain sama si jhon ini.
Satu jam berlalu...
"Gimana jhon?" Vanessa datang membawa gaun hitam yang simple tapi cukup elegan.
"Tidak terlalu susah say, manismu ini sudah cantik, jadi hanya sedikit polesan saja." Jelas jhon.
"Oke thank you jhon."
"No problem say." Jhon pun meninggalkan kami.
"Sekarang, pakai ini sheil!" Nessa menyodorkan longdress hitam yang sangat anggun dan terlihat mahal itu kepadaku.
"Apa ini tidak berlebihan ness?" Aku berusaha protes.
"Tidak.. ayo buruan, nanti terlambat, eksmud itu biasanya tidak suka menunggu lho." Vanessa pun menarikku ke fitting room di salon tersebut.
Dengan terpaksa aku hanya bisa menuruti kata-kata vanessa. Aku pun memakai dress yang vanessa kasih, dia memang sangat mengenalku, dari ukuran hingga model yang tidak terlalu terbuka seperti yang biasa dipakainya, pas sekali di bodyku.
"Wow.. perfect, aku yakin calon eksmud itu tidak akan curiga kalau kamu vanessa KW." Vanessa tiba-tiba menghampiriku dan menilai penampilanku dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Tapi ness.. dengan penampilan seperti ini, bagaimana kalau dia benar-benar suka padaku?" Aku menymbongkan diri karena aku merasa aku berbeda dan naik kelas setara dengan vanessa dengan penampilanku ini.
"Hahha.. dia tidak akan suka sama cewek yang tidak pernah menginjakkan kakinya di club."
"Cih,," Cibirku sambil tersenyum geli.                                      

 Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar