Rabu, 28 Desember 2016

Sahabat atau Cinta
By : Eka S

Capter 2

Vanessa dan steve mengantarku ke resto tempat aku bertemu cowok yang hendak dijodohkan dengan sahabatku yang gila ini.
"Ness, jangan bilang kalau steve mengetahui rencanamu ini." Bisikku sebelum turun dari BMW seri 3 hitam milikvanessa.
"Binggo, kamu memang sahabatku.. hahaha." Dasar pasangan gila ini pun menertawakanku.
Sesaat setelah turun dari mobil vanessa memanggilku, "Sheil, namanya ray, good luck ya honey, aku mengandalkanmu."
"Okey Ness." Aku hanya mengangguk.
"Thanks Sheil." Vanessa menggenggam tanganku.
"Okey, pergilah kalian sana!" Aku hampir terharu dan segera menyuruh mereka pergi.
"Bye.."
"Bye.."
Dengan perasaan yang tidak menentu, aku melangkah masuk ke resto, setelah dibukakan pintu aku pun menyebutkan.. "Resevasi atas nama Ray Pliss.."
Setelah di cek, aku pun diantarkan salah satu waiter.
"Silahkan Miss". Aku diarahkan ke meja outdoor dekat taman dengan kolam yang dilengkapi lilin bunga teratai disertai gemercik air mancur yang tidak begitu deras. Suasana yang sangat sempurna seandainya bisa dinner dengan orang yang kita sayang..
Di tengah kekagumanku, pandanganku beralih ke sosok Pria muda yang mengenakan tuxedo hitam tanpa dasi dan kemeja putih dengan kancing atas yang terbuka, sangat maskulin ditambah dengan face yang good looking serta tubuhnya yang tinggi mendekati atletis menyempurnakan pemandangan malam ini..

"Vanessa..?" OMG bahkan suara barito nya sangat menggetarkan. Sadar Sheil.. sejak kapan kamu jadi genit begini? Ya.. dewi batinku menyadarkanku. Aku hanya membalas sapaannya dengan sedikit senyum.
"Ray..?" Dia pun hanya mengangguk dan sedikit sunggingan bibir yang sepertinya agak dipaksakan.
Kami terdiam sejenak, bahkan aku tidak berani menatapnya. Apa yang kira-kira sedang dia lakukan sekarang? Apakah dia sedang mengarahkan pandangannya kepadaku? Atau dia mengabaikanku?
Aku pun memberanikan diri mengangkat pandanganku ke arahnya..
"Langsung saja ness." Kata-katanya menahan bola mataku tetap menatap matanya.
"Ya..?" Jawabku singkat.
"Kamu tentu sudah tahu apa arti dinner ini kan?"
Aku hanya mengangguk pelan dan masih menunggu dia bicara.
"Aku menolak perjodohan ini, aku yakin kamu juga tidak akan menikah dengan orang yang tidak kamu kenal." Kata-kata yang aku tunggu pun keluar dari bibir tipis ray.
"Ya.." Thanks God, ternyata ini tidak sesulit yang aku pikirkan.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Ray menanyakan hal yang tak terduga. Mati, apa yang harus aku katakan?
"Umm.. kita bilang saja ke orangtua kita kalau kita menolak perjodohan ini."
"Huahahaha.. " Ray membalas kata-kataku dengan tawanya. Kenapa dia tertawa seperti itu?
"Kenapa? Apa ada yang salah? Aku tidak bermaksud melucu disini." Tanyaku beruntun karena merasa tidak nyaman dengan caranya menertawakanku.
"Sorry... Ya, itu pemikiran yang sangat simple. Tapi... seberapa yakin kamu kalau mereka akan menuruti kemauan kita hah?" Nada ucapannya agak tinggi kali ini, setelah sebelumnya menganggapku seperti badut.
Aku hanya menunduk dan terdiam, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan untuk menjawab pertanyaannya.
Tiba-tiba.. Bregg.. Ada seseorang menabrakku dari belakang.
"Ahh.. maaf.. aku tidak sengaja.." Kulihat seorang nenek dengan jalannya yang agak susah berdiri di belakangku dan tangannya memegang sandaran kursi yang aku duduki.
"Hhh.. tidak apa-apa nek.. mari saya bantu. Nenek hendak kemana?" Aku bergegas bangun dari dudukku dan menghampiri nenek yang berpakaian semi formal serta rambut putihnya yang pendek dan tertata rapi terlihat seperti bangsawan belanda.
Sang nenek menunjuk ke arah meja tempat ia tuju, disana terihat seperti sekumpulan orang-orang yang berkelas.
"Baiklah nek, mari saya antar." Aku menganggukkan kepala kepada ray sebagai tanda permisi.
Di meja sang nenek ada seorang pria muda berjas dilengkapi dasi melihat ke arah kami dan bergegas menyambut kami.
"Grandma.. seharusnya tadi diantar Mom saja. Jadi merepotkan. Maaf Miss.."
"Ahh.. tidak masalah. Kalau begitu saya permisi" Saya menyerahkan tangan si nenek ke Pria yang sepertinya cucunya tersebut.
"Oh iya, terima kasih." Pria itu sepertinya sangat tidak enak karena aku mengantarkan neneknya.
Dengan senyuman akupun meninggalkan nenek dan pria tampan itu.
Sesampainya di mejaku dan Ray..
"Apakah kamu selalu mengurusi hal-hal kecil seperti itu?" Ucapan ray yang terlihat kesal mengagetkanku.
"What? Hal kecil katamu? Nenek itu kesulitan berjalan Ray.." Jawabku tegas.
"Kenapa tidak panggil waitress saja.." Ray membalas lagi.
"Kenapa harus panggil waitress kalau aku bisa mengantarnya sendiri.. hayoo.." Aku tetap tidak mau mengalah  padanya. Entah kenapa aku menjadi berani seperti ini, tapi aku merasa sikap Ray tidak beralasan.
"Hhh terserah, aku sedang tidak ingin berdebat, sudah aku duga ini tidak akan berhasil. Ayo aku antar pulang..!"
Ray bangun dari duduknya dan meninggalkanku ke kasir resto.
(What, kami bahkan belum sempat makan..)
Ray benar-benar menarikku ke mobil luxurynya dan menanyakan alamat apartemenku, dan tentu saja aku memberikan alamat apartemen Nessa.
Aku perhatikan dia memakai G**gle Map, tentu saja Ray tidak hafal jalan di sini, dia datang dari Jakarta dan kabarnya lama tinggal di Swiss.
Kami hanya diam sepanjang perjalanan.
"Shiit.. Sepertinya aku salah ambil jalan." Ray terlihat kesal, tangannya sempat memukul stir mobi sport nya.
Ya, kalau diperhatikan jalannya memang semakin menyempit, Sepertinya Ray sengaja tidak mengambil jalan kota untuk menghindari macet.
"Sorry.., seharusnya kamu tidak perlu mengantarku tadi, aku bisa naik taksi."
Zzzhhht..
Mobil tiba-tiba berhenti sampai tubuhku terdorong ke depan, huh untung aku pakai setbelt tidak seperti biasanya saat berkendara dengan nessa dan renny.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Jawabnya kesal.
"Memangnya kamu ngasih aku kesempatan, huh?" OMG aku bisa marah-marah ke Ray seperti ini.
"Seharusnya kamu melawan tadi." Nada bicaranya tiba-tiba jadi rendah.
Ray menancap gas kembali dan baru beberapa meter.. Gluk.. Sepertinya roda belakang masuk lubang jalan. Ray berusaha menancap gas tapi tetap tidak ada pergerakan berarti.
Kami pun turun dari mobil apes ini, dan benar saja ternyata dari tadi kita ada di jalan setapak di tengah sawah. Walaupun aku yakin masih di daerah kota, karena kita belum terlalu jauh dari jalan besar yang terakhir aku ingat. Damn.. roda belakang mobil terjebak lumpur dan sepertinya tidak akan mudah mengeluarkannya tanpa bantuan. Kulihat Ray segera menghubungi seseorang.
"Jasa derek sedang menuju kemari apakah kita menunggu saja?" Tanya ray.
Kruuuyuuuuk..
Ohh.. perutku rupanya menjawab pertanyaanya untuk tidak menunggu.
"Bagaimana kalau kita jalan  kaki ke arah sana? Sepertinya ada jalan besar?" Usulku mengalihkan perhatiannya dari suara perutku.
"Kamu yakin? Baiklah.." Jawabnya menurutiku.
Kami pun melangkahkan kaki meninggalkan mobil sport mewah abu-abu yang malang ini.
"Wow.. langit yang indah, sedikit awan, banyak bintang, dan bulan sabit.. perfect." Ucapku mencairkan suasana.
"Ya,, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku memperhatikan pemandangan langit seindah ini." Kata-katanya tiba-tiba menggetarkan hatiku, ada rasa iba, seakan-akan dia telah lama tenggelam dalam dunia yang tidak dinikmatinya, dunia yang sangat menyibukkannya hingga tidak ada waktu memandang langit sekalipun.
Kami menghentikan langkah kami sejenak dan menikmati langit yang terbentang tepat diatas ubun-ubun kami.
Ada perasaan bahagia saat memandangnya larut dalam salah satu keindahan ciptaan-Nya. Dan ketika tersadar pandanganku tertuju padanĂ½a, Ray bergegas berjalan kembali meninggalkanku. Aku berusaha menyusulnya, namun..
Slepp.. "Ouch.."
"What's wrong?" Ray berhenti dan menengok ke belakang, ke arahku, ke arah kakiku yang tertahan karena hak sepatuku tertancap di tanah liat.
"Hhhhhh.." Ray menghela nafas panjang dan berbalik ke arahku, menarik sepatuku dari tanah yang lumayan padat dan butuh sedikit tenaga untuk mengeluarkannya.
"Sepertinya high hill tidak cocok dipakai di sini, lebih baik dilepas!"
"Aku tahu, tapi aku takut kakiku menginjak sesuatu yang menggelikan, ulat, ular, tikus, rasanya masih mending menginjak beling deh, asal jangan mereka."
"Rrrrh.." Sepertinya Ray bertambah sangat kesal dengan tingkahku ini.
"Naiklah!" Ray berjongkok dan menyuruhku naik ke punggungnya.
"W-What..?"
"Mau gendong atau aku tinggalin di sini?"
"Hhh.. jangan ditinggalin, disini gelap, iya aku naik." Tapi bahkan longdressku tidak memungkinkan.
Ray berbalik ke arahku mengambil rok bagian bawah di mata kakiku dan..
Srrrrrrrrrt...
Hahh, dia menyobek gaunnya, gaun mahal pemberian Vanessa, tepat di antara kaki belakang sedikit diatas lutut. Tapi Vanessa harusnya tidak ada alasan untuk marah, ini semua kan demi dia.
Aku mencoba naik kembali ke punggung Ray, tapi masih tetap tidak bisa.
"Hhhh.. Haruskah aku robek lagi gaunmu itu?"
"N-No.. no.. kita tunggu disini saja.. iya, kita tunggu mobil derek saja..." Pintaku.
"Hahh.." Aku sangat terkejut ketika Ray mengangkatku dan menggendongku di depannya laksana putri dan pangeran di fairytale.
Ekspresi menganga-ku yang aku rasa awkward banget tiba-tiba berubah saat sinar bulan dan bintang samar-samar memantul di wajahnya.

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar